Pernahkan sebuah kamar selalu terasa berpenghuni, baju-baju di almari tergantung seolah menanti untuk dikenakan, dan komputer tua yang selama belasan tahun seolah tak pernah berpindah tempat untuk kemudian disentuh dan digunakan pemiliknya? Atau pernahkah dirimu melihat piring kosong yang tidak pernah meninggalkan tempatnya di meja makan meski sang pemilik sudah tidak ada?
Ibu Maria Sumarsih sampai sekarang masih menyediakan piring kosong untuk anak lelakinya. Lengkap dengan sendok, garpu, dan gelas di meja makan. Itu terjadi saban makan bersama digelar. Siapa tahu anak lelakinya itu berdiri di ambang pintu lengkap dengan rambutnya yang bau matahari dan menyelinap masuk untuk menikmati masakan sang ibunda. Tapi sudah 24 tahun berlalu, kursi itu tetap kosong, piring yang disiapkan juga tetap saja tertelungkup meski Ibu Maria dan anggota keluarga yang lain sudah selesai menyantap makanan.
Anak lelakinya bernama Bernardinus Realino Norma Irmawan. Biasanya sang ibu memanggilnya Wawan, mahasiswa Atma Jaya, Jakarta yang ditembak mati dalam Tragedi Semanggi I tahun 1998. Mengutip dari laman Wikipedia, Ita F. Nadia, seorang senior di Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRuK) bersaksi, bahwa sebelum ditembak, Wawan bersama dengan enam orang kawannya berusaha menetralisir gas air mata dengan menyemprotkan air hidran. Saat ia tertembak, tas berisi obat-obatan masih menggantung di lehernya. Pernyataan ini diperkuat oleh Dian, seorang wartawan radio yang berada di samping Wawan pada saat kejadian. Menurutnya, sebelum Wawan pergi menolong salah satu korban, ia telah meminta izin kepada salah satu aparat militer untuk menolong korban dan diperbolehkan. Wawan juga melambaikan bendera putih. Simbol posisinya yang netral. Tetapi, ia tetap terkena tembakan. Ia ditembak di bagian dada. Di Jumat kelam itu, alih-alih disambut dengan sate kambing dan tempe kesukaannya, Wawan pulang disambut dengan peti mati.
Sebagai seorang ibu, ia ingin mengetahui mengapa anaknya pantas untuk ditembak, mengapa aparat-aparat militer tidak menjaga dan mengamankan Wawan dan rekan-rekannya dalam demonstrasi besar-besaran saat itu? Berangkat dari rasa keingintahuan-nya itu, pada tanggal 18 Januari 2007, Ibu Sumarsih bersama keluarga korban dan aktivis menggelar Kamisan untuk pertama kalinya. Aksi Kamisan adalah sebuah aksi damai yang dilakukan setiap hari kamis di hadapan istana negara. Durasinya satu jam. Dari pukul empat hingga lima sore. Mereka memajang spanduk dan foto-foto korban pelanggaran HAM masa lalu. Dengan bernaungkan payung hitam dan berkaos hitam, mereka mencari keadilan agar tragedi pelanggaran HAM ini diusut. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, sudah 15 tahun aksi kamisan itu digelar, Ibu Maria Sumarsih tak pernah surut langkah menuntut penyelidikan terhadap Tragedi Semanggi I yang menewaskan putra kesayangannya.
Pada 10 Desember 2004, bertepatan dengan hari HAM sedunia, Maria Sumarsih dianugerahi Yap Thiam Hien Award. Anugerah ini diberikan di Museum Nasional. Ibu Sumarsih dinilai pantas menerimanya karena menjadi sosok yang berhasil mengatasi kesedihannya menjadi kesadaran akan nilai kemanusiaan. Beliau pernah menuturkan bahwa jika pada suatu waktu, para pelaku aksi keji itu berhasil ditangkap dan diadili, Ibu Maria menentang keras hukuman mati bagi mereka. Beliau ingin mereka diadili dengan adil. Ibu Sumarsih konsisten dengan apa yang dia perjuangkan selama ini. Hak Asasi Manusia, martabat Manusia. Ibu Maria Sumarsih adalah simbol kekuatan. Aksi Kamisan bukanlah hanya sebuah aksi menggugat, bukan hanya semata-mata untuk mencari siapa pelaku dibalik tewasnya sang anak, tapi lebih dari itu, aksi kamisan adalah sebuah peringatan bagi kita semua bahwa ada sebuah peristiwa yang melanggar HAM terjadi di Indonesia tahun 1998 silam.
Usia Ibu Sumarsih mungkin sudah hampir kepala 7 namun semangatnya tak pernah lekang oleh waktu. Bagi beliau, kematian hanyalah sebuah garis yang memisahkan antara mereka yang hidup dan mereka yang mati. Secara fisik memang Wawan sudah menyatu dengan tanah, tapi rohnya tetap ada. Semangat Wawan menjelma menjadi kekuatan bagi sang ibu. “Sampai sekarang Wawan bersama saya,” katanya.

Komentar
Posting Komentar