Queen sedang duduk di ruang baca Edna, mengobrak-abrik barang-barang
lamanya yang disimpan oleh kakaknya. Meskipun yang Queen cari itu
hanyalah album lama yang mungkin sudah usang, itu adalah album berharga
yang isinya kenangan waktu sekolah dasar. Album lama yang dia cari sangat
berharga, sebuah album yang berisi foto-fotonya dan teman-temannya yang
masih kecil.
“Kok nggak ada sih?!” Queen bergumam sambil mengobrak-abrik laci kayu
kuno. Padahal Queen yakin, ia ingat meletakkannya di situ sebelumnya, tetapi
dia tidak dapat menemukannya dengan benar. Tetapi, setelah mencari untuk
waktu yang lama, album pentingnya itu tidak kunjung ditemukan, membuat
Queen berlari menemui kakaknya yang sedang memasak di dapur, lalu ia
berteriak kesal karena frustrasi.
“Kak Ed, kok albumku nggak ada sih? Kakak yang pindah ya?”
Edna tentunya terkejut mendengar teriakkan adiknya yang tiba-tiba itu, namun
dengan tenangnya dia mematikan kompor setelah akhirnya bertanya balik
dengan nada halus. “Bukannya kamu simpan di ruang baca kakak ya?”
Mendengar kakaknya justru menjawabnya dengan tenang, Queen merasa
sedikit bersalah berteriak kasar lalu berbicara lagi dengan pelan meski sedikit
bersungut-sungut. “Iyaaa, tapi nggak ketemu kak…”
“Ya udah. Ayo cari album kamu itu bareng-bareng, siapa aja ketemu?” tawar
Edna dan diangguki Queen.
Akhirnya kedua adik dan kakak itu mencari lagi barang milik Queen di ruang
baca Edna.
“Terakhir kali kamu simpan di mana buku itu?” tanya Edna.
“Di sini!”, Queen menunjuk laci kayu kuno dan membukanya.
“Ya udah, coba cari lagi di situ…” perintah Edna.
Queen mengerutkan keningnya karena dia sudah mencari dalam semua laci,
tetapi tidak ada yang muncul. Meski begitu ia tetap menuruti kata kakaknya.
Dia melihat ke bawah laci, untuk berjaga-jaga. Dan Queen menemukan
sesuatu tergantung di antara celah celah yang dalam.
“Eh? Ketemu!!” Queen mengulurkan tangannya dan akhirnya meraih apa yang
diinginkannya. Ketika dia membersihkan debu, yang ia lihat adalah cover
bunga-bunga mawar dengan warna yang sedikit pudar. Album ini adalah
barang berharga yang dia terima dari kakaknya. Ia tidak bisa mengatakan
betapa bahagianya Queen dengan hadiah yang diberikan Edna, meskipun itu
adalah sesuatu yang awalnya tidak ingin dia miliki.
“Sorry ya, kak…” Queen malu dan Edna tersenyum.
“Kakak waktu sekolah juga pernah teledor, lupa naruh buku di mana, terus
marah-marah ke Mama. Padahal waktu itu Mama nggak tahu buku apa yang
kakak cari.” Edna nyengir mengingat masa SMP-nya.
“Kakak takut banget buku kakak beneran ilang. Mau beli tapi buku itu ’kan
isinya tugas-tugas kakak. Akhirnya, kakak selalu periksa ulang buku-buku
kakak supaya nggak hilang, dan lebih teliti nyari barang ilang sebelum tanya
ke Mama.” Edna melanjutkan. “Lain kali lebih teliti ya. Simpan barang yang
aman, kalo cari barang, ya di cari yang benar-benar.”
“Iya, kak. Lain kali nggak aku ulangin lagi.” Queen menyesal.
Edna pun mencubit pipi adiknya dengan penuh kasih sayang. Semoga kali ini
Queen benar-benar menyesali perbuatannya dan lebih teliti meletakkan
barang-barangnya.
Komentar
Posting Komentar