Pohon Tua di Sudut Kota

Photo by icon0.com from Pexels

Karsa menatap aneh pohon tinggi yang menjulang di depannya kini. Diedarkan pandangnya untuk mencari sesuatu namun nihil.

Barangkali memang hanya dia di antara yang subur.

Barangkali memang hanya dia di antara yang lebat.

Barangkali memang hanya dia yang sudah tanpa nyawa.

Mati, gundul, gersang dan penuh kedukaan.

Pohon itu, pohon yang kini dirinya duduki untuk bersandar sejenak dari penat.

Yang pangkas rantingnya, dan berkerut tua kulitnya.

Yang gugur daunnya, dan lapuk kayunya.

Menerka Karsa dalam benaknya. Duduk bersila bak petapa sembari memikirkan ketandusan tunggal yang melanda pohon di belakangnya. Dialasi rumput hijau yang bergemerisik disapu angin dan dikawal oleh puluhan pohon kokoh yang besar nan segar.

Karsa lantas bertanya-tanya, bagaimana bisa pohon itu, berduka dalam kesendiriannya?

Angin berembus ramah membelai rambut hitam Karsa. Menyentuh lembut daun-daun membiarkan gemerisik berbunyi bak alunan nada yang begitu alami.

Langit senantiasa dalam keceriaannya, birunya tersenyum bersama sang surya yang membara. Membakar kulit Karsa andaikata dia berjemur di bawah sana lebih lama.

Gemerisik daun yang mendayu diiringi oleh gurauan rumput yang syahdu. Aroma tanah basah yang menjadi tempatnya berpijak terasa menguar bersamaan dengan gemeliat cacing yang riang gembira.

Sorot Karsa lalu terarah pada sosok-sosok yang sedang bersenda gurau di kejauhan. Hirau akan sengatan sang bintang siang menikmati permadani semesta yang sebiru permata.

Ini hari yang sempurna.

Kemudian, Karsa kembali bertanya, lantas mengapa dia seolah selalu dalam keberkabungan?

Pohon itu seperti memiliki dinding tak kasat mata tebal yang membatasi dirinya dari segala kebahagiaan hari ini. Pohon itu memilih memisahkan diri dalam dalam duka yang tak mampu Karsa pahami. Duka yang menyelimuti, kian hari, hingga Karsa sendiri mampu merasakan sesaknya meski hanya melihat sekali.

Pohon mati itu, benar-benar seakan dalam kedukaan yang abadi.

Mendongak, Karsa melihat seekor burung merpati yang bertengger dengan riang hati di salah satu dahan pohon di sebelah yang mati.

"Hari ini ceria, lantas mengapa kau membiarkan dia larut dalam kesendirian?" bertanya Karsa pada burung itu menepis fakta bahwa tak akan ada suara yang mampu menjawabnya kecuali kicauan yang tak akan dipahaminya.

Keriangan sang Merpati entah mengapa lenyap sedetik setelah Karsa bertanya. Ia memandang Karsa dengan pandangan tak suka. "Bukan aku, tapi manusia," ketusnya yang mampu mengundang keterkejutan di raut Karsa. Burung itu kemudian pergi begitu saja.

Mata Karsa terpaku, terus mengikuti terbangnya burung yang disertai oleh gugurnya daun.

"Manusia?"

Seakan hendak menjawab Karsa, angin yang berembus pelan berubah menjadi gemuruh yang begitu rusuh. Biru yang menari bersama awan dan matahari terhenti. Rumput yang bergurau menghentikan tawanya dan gemerisik daun senyap seketika.

Ia lalu memandangi kearah daun yang jatuh. Matanya terkesikap saat mendapati bahwa daun itu, melayang.

Benar-benar melayang! Bukan terbang tertiup angin yang lama-lama akan jatuh jua.

Ia lalu melihat kesekeliling. Semua sungguh berhenti. Daun yang menari bersama rerumputan dan semak perdu. Tawa orang-orang yang berubah sunyi. Geliat cacing yang tidak menunjukkan pergerakan.

Karsa melihat arloji yang terikat manis di tangan kirinya. Tiga jarum yang ada di balik kaca itu berhenti berdetak. Tiada detik yang bersuara layak hari biasa.

Waktu…berhenti?

Tak berhenti di sana, Karsa kembali dibuat terkejut saat merasakan guncangan di tanah yang dipijakinya. Pohon mati itu bergetar, membuat Karsa spontan berdiri menjauh.

Pohon duka itu bergerak, akar-akarnya yang besar mencuat memutuskan diri, meloloskan dari jerat bumi yang membuatnya berdiri diam sendiri.

Karsa terus terpaku pada pemandangan itu. Pohon yang tanpa kehidupan itu terus mematahkan tiap cabang dan kayu lapuk yang menempel pada tubuhnya. Dipakainya cabang itu layaknya tongkat guna membantu melepaskan diri. Gerakannya lamban, namun terasa begitu cepat dimata Karsa.

Mengagumkan sekaligus mengerikan.

Tak lama, kini setengah akarnya sudah berhasil lepas. Tanah makin menggembur, menyemburkan butiran-butiran kasarnya bersama udara.

Ranting yang semula buntung, kembali tumbuh dengan lebih besar. Pucuk-pucuk daun mekar di sekujur cabang menggantikan yang layu berguguran, melebat dalam tempo yang kasat mata, merindang menutupi sinar terik mentari yang tetap membara meski waktu terhenti sementara.

Kerut-kerut pada batangnya membentuk pola. Dari yang semula hanya abstrak saja, semakin lama, semakin jelas bentuknya. Memola wajah seorang pria tua.

Wajah tua itu, seakan seirama dengan kerutan kayu yang tak hilang meski telah menjadi wajah. Terwujud sepasang mata dengan kantung dibawahnya, lalu hidung layaknya cabang pohon, kemudian berlanjut membentuk segaris bibir di tengah wajahnya, lengkap dengan alis yang menukik.

Saat pohon penyendiri itu selesai merubah diri, waktu tetap berhenti.

"Ah...," lenguh Pohon Tua itu meregangkan tubuhnya. Akarnya kini sudah sepenuhnya menyembul keluar. Menjalar dengan kokoh supaya tetap mampu berdiri meski tidak lagi tertancap pada bumi. Memenuhi sekiranya satu meter area disekeliling si Pohon Tua.

Karsa masih bergeming ditempat. Tatapannya tetap tidak lepas dari pohon, yang kini seakan hidup.

"Selamat siang Karsa. Tak perlu takut. Ini bukanlah kiamat karena waktu hanya berhenti sesaat," ujar sang Pohon. Suaranya berat dan terdengar renta. Persis seperti suara pria tua biasanya.

"Kau berada di sebuah ruang hampa yang dibuat semesta."

Karsa menatap aneh pada sang Pohon Tua.

"Ah, kau tak perlu berekspresi seperti itu. Semesta memang luar biasa. Yang Kuasa tentu tidak mampu dipikirkan oleh akal kecil kita. Semua yang diperbuatnya, tidak mungkin bisa dipandang dengan cara biasa."

"Semesta menghentikan waktu sementara. Hanya ingin menunjukkan masa saat aku masih hidup berjaya. Masa di mana semua belum terjamahi manusia. Kau ingat merpati kecil tadi?"

Karsa mengangguk. Ia tak berbicara karena masih terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dialaminya.

"Sejujurnya, kami membenci bangsamu semenjak kebusukan merajalela di hati kalian, menguasai peradaban manusia," jelas Pohon itu. Matanya menatap ke arah awan gemawan putih yang masih terhenti, dengan jajaran burung tetap dalam formasi.

"Aku adalah pohon tertua di padang itu. Masa itu, banyak sebangsamu menjadikanku ruang berteduh. Menjadikan teman-temanku tempat bermain mereka, sumber makanan dan tempat mengenang," kisahnya. Tatapannya terus menerawang siang.

"Aku sahabat mereka. Mereka sahabatku. Kau, sahabatku, Karsa."

Karsa terus mendengar. Perasaan hangat menyusupi hatinya, mendekapnya dalam ketenangan.

"Sejatinya, manusia dan alam adalah sahabat. Kita bersama, saling mencurahkan cinta. Perpaduan sempurna ciptaan Yang Kuasa." Tersenyum sang Pohon Tua mengenang masa lampaunya.

Namun secara tiba-tiba, kemurungan kembali merundung Pohon Tua itu. "Namun, masa itu hanya singkat saja. Masa itu kian menua, hilang dilahap usia. Manusia, kian lupa bahwa semua hanyalah fana. Mereka angkuh, merasa menjadi kasta tertinggi yang mampu berbuat sesuka hati."

Pohon Tua menggeram. "Kalian memburu binatang-binatang yang sudah menjadi teman kesayanganku, menebangi tanpa mengganti kerabatku, membakar keluargaku. Menimpa tanah subur yang menjadi pijakanku dengan beton berat tanpa memberi jalur untuk kami mendapat air. Menggusur kami dari tempat lahir kami sendiri. Bangsamu sungguh egois," ujarnya penuh amarah.

Karsa terdiam lagi. Ia sama sekali tidak pernah melakukan apa yang dikatakan si Pohon Tua tapi tak pelak ia merasa bersalah. "Lalu bagaimana denganmu?" tanyanya.

Apa yang terjadi sehingga walau sudah lewat lama usia, keberkabungan itu tetap menyelimuti si Pohon Tua?

Pohon itu berkerut. "Aku?" beonya. Ia tersenyum miring dengan bibirnya yang segaris itu. Alisnya semakin menukik. "Tidak begitu buruk. Aku hanya dipangkas cabangnya. Hanya saja, aku selalu dipangkas saat daunku mulai mengeluarkan bunga. Saat masa burung-burung membuat sarangnya di dahanku. Saat buahku dihuni oleh ulat-ulat yang mencari sebuah makanan."

Karsa tak mengerti.

"Jeritan saat sang burung mendapati anaknya mati sebelum bisa melihat dunia kejam ini, ulat yang kehilangan makanannya dan juga bunga yang layu sebelum mekar sempurna. Jeritan-jeritan itu begitu pilu, menyayat hatiku bahkan setelah semua tak pernah lagi sama. Itulah mengapa aku terus berduka," lanjutnya. Pohon itu mengusap matanya dengan salah satu cabang yang menjadi pohonnya. Seakan ada buliran air mata yang keluar dari sana.

Karsa tak mampu membalas.

"Jangan jadi iblis yang membuat neraka dunia. Jadilah manusia dengan segala kemuliaannya."

Pohon Tua itu kembali tersenyum. "Karena alam akan membalas segala yang didapatkannya. Jika kita menyayangi mereka maka alam juga akan menyayangi kita. Dia tak akan pernah ragu memberi sumber dayanya seribu kali lebih berharga."

Tatapan sang Pohon beralih pada Karsa. "Bukankah kau menyadari?"

"Menyadari apa?" tanya Karsa menimpali.

"Kemarahan semesta."

"Ombak bergelung bersama badai, menyapu bangsamu hingga luluh lantah. Bumi bergejolak, meretak dan membuat celah. Panas yang kian menyengat dan udara yang menghitam," lanjutnya.

Tangan sang Pohon bergerak keatas. "Kembalilah memainkan melodi dengan kami, sebelum Yang Kuasa menitahkan kami."

Karsa mengerutkan keningnya. "Untuk apa?"

"Menghancurkan manusia dari muka bumi."

Langit kembali bergemuruh. Petir menyambar meski biru masih menduduki cakrawala. Angin berembus teramat kuat, menerbangkan kembali daun-daun yang sempat terhenti.

Akar-akar Sang Pohon Tua kembali berderak masuk ke dalam bumi. Kerutan yang membentuk wajah berubah, memudar, sedikit demi sedikit kembali seperti semua.

Cabang-cabangnya yang rindang kembali patah. Dedaunan hijaunya menyusut, mengering, jatuh dan hilang ditelan tanah.

Disaksikannya masa saat orang-orang menebang si Pohon Tua.

Karsa memegang kepalanya. Ia mendengar jeritan parau yang begitu pilu. Merasakan kesedihan teramat dalam dari seisi hutan. Ia memejamkan matanya hingga semuanya reda.

Angin yang begitu rusuh, kembali berdesir lembut. Kawanan pohon rindang kembali bergurau bersama dengan burung yang bertengger pada cabangnya. Rumput-rumput kembali bernyanyi dengan merdu, beriringan dengan gesekan daun-daun yang padu. Langit yang semula penuh petir mengerikan, kembali tersenyum pada dunia.

Mega yang menggantung bersama sang surya kembali menampakkan kebolehannya.

Karsa melirik arlojinya. Jarum miliknya kembali bergerak seperti biasanya. Tiap detik berdetak berirama.

Cacing-cacing kembali melakukan aktivitas berenangnya dalam gemburan tanah. Tawa yang sempat terhenti kembali terdengar di telinga Karsa. Netranya menyapu ke segala arah.

Semua seperti sedia kala. Damai dan ceria.

Karsa mendongak. Seketika, kabut kedukaan ikut menyelimutinya di bawah Pohon Tua. Turut terperangkap dalam jerat keberkabungan abadi dari pohon itu. Kesendirian yang begitu pedih mengalir di setiap gurat pohon yang tampak tidak bernyawa di pandangannya.

Sekarang, Karsa merasa zaman memang telah berbeda tetapi kebodohan yang sama masih merajalela, bahkan jauh lebih buruk dari sebelumnya. Sebab, ia masih berdiri di dekat pohon yang mati dan ia sama sekali tidak bisa menghentikan para bangsanya untuk tidak melawan semesta. (Wijang)

Komentar