HARAPAN
https://pixabay.com/images/id-6603297/
Disebuah kamar terlihat seorang gadis berambut pendek sedang berdiri didepan cermin dengan keadaan kacau. Dadanya terasa sesak, matanya kian memerah, kedua tangannya terkepal kuat menahan rasa takut yang selalu menghantuinya. Ia menghela napas untuk kesekian kalinya untuk menenangkan diri.
Alexa Azkiara gadis yang murah senyum dan selalu terlihat baik baik saja di hadapan semua orang, yang pada kenyataannya menyimpan sebuah luka. Setelah makan malam bersama keluarganya Alexa memutuskan untuk segera kembali ke dalam kamarnya. Rasa takut selalu menghantuinya, dimana dia harus di tuntut sempurna dan tidak boleh ada kegagalan dihidupnya, Alexa butuh kehangatan, kenyamanan dan keamanan didalam rumah.
Gadis itu takut ketika ia gagal dalam menjalankan tuntutan orang tuanya rona memar yang sangat menyakitkan akan tercetak jelas di wajah dan tubuhnya, cacian dan makian yang di lontarkan orangtuanya bak pisau yang menghantam hatinya. Didepan cermin ia menatap wajahnya yang terdapat rona memar beberapa hari lalu, dia hanya tersenyum dan beranjak keluar kamar.
“mau kemana kamu?” tanya sang bunda. Alexa tak menghiraukan pertanyaan sang bunda , ia tetap berjalan keluar rumah
“anak gak guna! Ga usah pulang sekalian, jadi anak bisanya Cuma nyusahin!!” teriak sang bunda dari dalam rumah
Alexa berlari ke taman dengan napas terangah ia mendudukkan diri dibangku taman yang tersedia.
Gadis duduk terdiam dibangku taman di tengah dinginnya malam. Menatap langit malam yang bertaburan bintang, serta sinar bulan yang menerangi malam. Waktu telah menunjukkan tengah malam namun tak ada niatan dari Alexa untuk bergegas pulang menuju rumah, ahh rumah? Pada kenyataan nya banyak orang bilang bahwa rumah adalah tempat yang paling nyaman dan aman untuk mengistirahatkan diri? Tetapi Bagi Alexa itumenjadi sebuah harapan bukan kenyataan.
“Tuhan, jika diizinkan saya ingin harapan saya menjadi sebuah kenyataan, walaupun sesaat sebelum saya berpulang.” Ucap Alexa.
(Masha A.)
Komentar
Posting Komentar