![]() |
| Image by Aditio Tantra Danang Wisnu Wardhana from Pixabay |
Mendaki gunung merupakan suatu pilihan menarik bagi para pecinta alam. Selain berburu keindahan alam, mendaki juga salah satu cara self healing yang ampuh ketika merasa lelah dengan kehidupan. Maka dari itu, saya beserta teman-teman saya memutuskan mendaki gunung untuk pertama kalinya.
Liburan semester tiba, tepatnya hari Sabtu, 8 Juni 2019. Persiapan telah matang, segala kemungkinan telah dipertimbangkan. Rombongan kami berisi 10 orang, menuju ke gerbang pendakian Cemoro Sewu berlokasi di desa Ngancar, kecamatan Plaosan, kabupaten Magetan.
Awal perjalanan kami memasuki gerbang pendakian disambut dengan taman mini berlapis warna-warni pelangi. Dengan menelusuri jalan setapak berbatu yang dihimpit lebatnya hutan Cemara di kanan dan kiri. Ditemani nyanyian burung dan desir angin yang bergesekan dengan ranting cemara menghasilkan suara aneh tapi syahdu.
Selama perjalanan, kami sering berhenti untuk beristirahat. Wajar saja ini pengalaman pertama, waktu itu saya berusia 16 tahun. Kami menjumpai pendaki lain yang berseliweran pulang dan pergi. Saling menyapa, padahal tidak mengenal. Saling berbagi jika kehabisan bekal meskipun bukan satu rombongan. Ini salah satu yang saya sukai dari para pendaki, berjiwa sosial tinggi. Sangat awesome.
Semakin naik, udara dingin mulai merecoki. Jaket tebal, sarung tangan, juga kupluk mulai dikenakan. Awan gelap serta kabut menyelimuti jalan yang kami lewati. Saatnya senter difungsikan sebagai penerangan.
Tiba waktunya Maghrib. Kami tiba di pos ketiga dengan keadaan sedikit basah akibat gerimis menghampiri. Gelapnya perjalanan tidak memungkinkan untuk kami lanjutkan perjalanan. Memutuskan berhenti, mendirikan tenda lalu memasak mie rebus dengan kompor listrik yang kami bawa. Kemudian beristirahat memulihkan tenaga.
Senyuman mentari sangat merekah bak bunga mekar. Kami melanjutkan perjalanan. Pos keempat dan kelima kami lalui. Tiba di puncak tertinggi gunung lawu, Hargo Dumilah. Mengagumkan. Tak lupa kami mengabadikan panorama sekitar. Lelah terbayar dengan keindahan alam luar biasa, sangat worth it.
Sebelum turun, kami menyempatkan singgah di warung Mbok Yem. Ingin rasanya mengambil potret bersama Mbok Yem si wanita gigih dan berani, namun saat itu beliau sedang turun gunung mengambil dagangan. Naik turun gunung bukanlah hal yang mudah, apalagi membawa barang dagangan karena itu beliau disebut Primadona Gunung Lawu.
Perjalanan menuruni gunung, ditemani candaan serta gemilangnya bintang di langit malam. Tak terasa perjalanan telah usai. Banyak pelajaran yang saya dapatkan. Pendakian pertama mengesankan. Sangat lelah namun saya kecanduan akan pesonanya. Hargo Dumilah 3265 dpl, tunggu saya kembali. (Ana Anggraini)

Komentar
Posting Komentar