![]() |
| Image by masbebet christianto from Pixabay |
Boyolali – 17 Agustus 2021. Wayang adalah salah satu budaya Indonesia yang selama ini masih dijunjung nilai kebudayaannya. Semua pasti tahu, bahwa wayang tidak akan ada jika tidak ada dalang yang memainkannya. Yaa... dalang, sebutan untuk orang yang memainkan wayang. Kali ini kita akan membahas tentang kisah salah satu dalang yang populer di Boyolali, Bapak Warjito atau lebih dikenal dengan sebutan Dalang Kliwir. Sebutan Kliwir tersebut berasal dari kisah hidup Dalang Kliwir semasa kecil. Setelah mendalang, kakek dari Dalang Kliwir mendapatkan ayam ingkung yang rencananya ingin dimasak oleh ibu Dalang Kliwir. Tetapi, sebelum dimasak ayam tersebut sudah habis terlebih dahulu. Dalang Kliwir bolak-balik memakan ayam tersebut, maka disebutlah Dalang Kliwir dari kata Kliwar-Kliwir (dalam bahasa Jawa). Sebutan Kliwir itulah yang sekarang membuat namanya populer di dunia dalang, salah satunya di wilayah Boyolali.
Bapak Warjito atau Dalang Kliwir adalah ayah dari 3 anak. Anak pertama bernama Bayu, anak kedua bernama Radian, dan anak yang ketiga bernama Anandito. Perjalanan Dalang Kliwir menjadi dalang dari dahulu hingga sekarang terkenal tidak lepas dari kerja keras dan keuletan bapak dari tiga anak ini. Dalang Kliwir lahir pada tahun 1965. Delapan tahun kemudian, yaitu tahun 1973, Dalang Kliwir sudah mulai mendalang. Fakta menarik dari Bapak Warjito, beliau mendapat semua ilmu tentang wayang dan dunia perdalangan turun temurun dari keluarga Bapak Warjito sendiri. Bahkan Anandito, anak bungsu dari Dalang Kliwir ini sudah menggemari wayang dan menjadikan wayang sebagai teman bermainnya di usia yang sekarang masih dini, yaitu 2 tahun.
Tahun 1973 Bapak Warjito sudah mulai merintis karir di dunia perdalangan. Kemudian pada tahun 1975 Bapak Warjito dipanggil oleh presiden kedua RI, yaitu Bapak Soeharto, ke istana presiden pada masa itu. Tahun 1996 Bapak Warjito dipanggil oleh Bapak Soeharto untuk kedua kalinya. Hal itu menjadi maklum karena potensi istimewa dalang yang Bapak Warjito miliki. Cara Dalang Kliwir mendalang digemari para masyarakat dan menarik perhatian siapa saja yang menyaksikan, sehingga Dalang Kliwir tidak hanya mendalang di wilayah Jawa saja, tetapi juga sampai ke luar Jawa seperti, Maluku, Sulawesi, Padang, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.
Bagi Dalang Kliwir wayang dan dalang itu adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan berkaitan satu sama lain.
“Wayang itu menggambarkan manusia yang hidup di dunia dan dalang itu menggambarkan sebagai tuhan nya wayang tersebut. Wayang di gerakkan oleh dalang sebagai tuhannya dan manusia di gerakkan oleh Tuhan Yang Maha Esa di dunia”, tutur Dalang Kliwir.
Maksud dari tuturan Dalang Kliwir tersebut adalah, kita sebagai manusia hidup di dunia ini dihidupkan dan di tuntun oleh Tuhan Yang Maha Esa. Sama halnya dengan wayang yang ketika dikeluarkan dari kotak akan hidup karena dimainkan oleh dalang dan nanti akan ada saatnya wayang tersebut akan dimasukkan kembali ke dalam kotak yang menandakan, bahwa kehidupan sudah berakhir.
Dalang Kliwir juga menjelaskan banyak ilmu tentang budaya, terutama wayang di Indonesia. Salah satunya adalah sejarah wayang.
“Ramai pengetahuan wayang yang pemuda zaman sekarang ketahui adalah wayang berasal dari India, tetapi saya tidak menyetujui hal itu. Bagi saya wayang itu berasal dari Jawa dan bukti tentang keberadaan wayang pun ada di tanah Jawa”, begitulah penjelasan yang Dalang Kliwir katakan.
Dalang Kliwir tidak salah tidak juga benar. Hal tersebut tergantung perspektif masing-masing individu. Dalang Kliwir lahir jauh sebelum generasi milenial. Ditambah lagi, kepribadian Dalang Kliwir yang kental akan budaya Jawa karena garis keturunan yang dimilikinya membuat maklum jika beliau berpandangan seperti itu. Di sisi lain, akan wajar jika generasi muda memilki pemahaman budaya wayang itu berasal dari India karena begitulah materi yang kita dapatkan semasa duduk dibangku sekolah sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Tidak ada yang salah jika berhubungan dengan sejarah, karena cerita sejarah apapun itu akan tetap menjadi pembelajaran bagi generasi muda sekarang dan yang akan datang.
Dibalik kesuksesan yang Dalang Kliwir capai, banyak suka duka yang telah Dalang Kliwir alami. Salah satu contohnya adalah ketika Dalang Kliwir mendapat jadwal mendalang di luar Jawa pada malam hari. Pada pagi hari, Dalang Kliwir harus berangkat ke bandara Semarang karena tujuan penerbangannya ada di bandara tersebut. Tujuan Dalang Kliwir kala itu adalah Kalimantan Utara. Tetapi ternyata penerbangan yang Dalang Kliwir ambil tidak sampai di
Kalimantan Utara. Otomatis Dalang Kliwir terlambat dan baru berhasil sampai tujuan apada larut malam. Peristiwa tersebut sering terjadi ketika Dalang Kliwir mendapat panggilan mendalang ke luar Jawa. Hal tersebut sangat merugikan bagi Dalang Kliwir sendiri dan juga pihak yang mengundang Dalang Kliwir. Tetapi bagi pria berusia 65 tahun ini, hal tersebut sudah menjadi maklum. Pekerjaan tidak selalu berjalan baik dan lancar, adakalanya seorang pekerja mendapatkan pengalaman yang kurang baik.
Seperti halnya sekarang. Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Pandemi Virus Covid-19 sudah melanda Indonesia sejak awal tahun 2020 lalu. Hampir semua lapisan masyarakat terdampak, termasuk profesi dalang. Selama pandemi Dalang Kliwir sudah tidak mendapat panggilan untuk mendalang. Dalang Kliwir terakhir mendalang di bulan Maret tahun 2020 dan sampai sekarang bapak dari 3 anak ini tidak bekerja. Otomatis beliau tidak mendapat pemasukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Tidak hanya Dalang Kliwir yang kehilangan pekerjaannya, semua dalang pun juga kehilangan pekerjaannya. Terlebih lagi, hanya mendalang yang bisa Dalang Kliwir kerjakan dan dari mendalang Dalang Kliwir mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Harta yang Dalang Kliwir dapatkan juga hasil dari mendalang, tidak ada kerjaan sampingan selain itu. Karena istri Dalang Kliwir juga tidak bekerja, alhasil hanya dalang yang dijadikan sebagai pekerjaan utamanya.
Selama pandemi Dalang Kliwir memang sudah tidak bisa mendalang, tetapi Dalang Kliwir masih melakukan aktivitas lainnnya untuk menyibukkan dirinya, seperti jalan-jalan pagi olahraga ringan agar tetap sehat. Walaupun sudah tidak ada pemasukan dari pekerjaannya, Dalang Kliwir masih bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.
“Pemasukan sudah tidak ada, nak. Tetapi, masih bisa makan dan mencukupi kebutuhan seharihari dengan apa yang saya miliki. Saya bersyukur masih bisa diberi kelancaran dalam hidup di masa pandemi ini. Dalang-dalang yang kehilangan pekerjaannya juga sama seperti saya, bahkan mereka sampai menjual harta benda mereka demi mencukupi kebutuhan hidup mereka,” tutur Dalang Kliwir.
Begitulah nasib perdalangan di masa pandemi ini. Generasi muda tidak secara leluasa menikmati pertunjukan wayang, salah satu kekayaan budaya Bangsa Indonesia yang sebenarnya masih eksis hingga sekarang. Wayang masih melekat dengan kebudayaan Jawa zaman dahulu. Itu semua tidak lepas dari peran dalang yang memainkan wayang dan memperkenalkan wayang kepada generasi muda di Indonesia. Sangat disayangkan apabila para dalang kehilangan pekerjaannya di masa pandemi ini. Tidak ada pemasukan dan kegiatan yang mereka lakukan. Masa sekarang memang mengkhawatirkan, tetapi di masa pandemi ini kita sebagai generasi muda juga harus menunjukkan bahwa pandemi tidak menghalangi generasi muda untuk tetap berkarya dan menjunjung tinggi budaya lokal di Indonesia.
“Sebisa mungkin jangan pernah meninggalkan budaya, sopan santun, dan tata krama yang berlaku. Budaya itu peninggalan kakek-nenek moyang kita yang harus dijunjung dan dilestarikan. Karena kalau budaya di Indonesia hilang, Indonesia akan menjadi rapuh.” – Dalang Kliwir
(Alifina)

Ttep semanagat dalam berkarya .semoga sukses aamiin YRA
BalasHapus