Pengucilan dan Penolakan: Cerita Pilu Seorang Mantan Pasien COVID-19

Photo by Isfak Himu on Unsplash

Pada 24 Oktober 2020, penulis mewawancarai seorang mantan pasien COVID-19. Sebut saja namanya adalah Ibu S. Beliau adalah seorang pedagang sembako yang bertempat tinggal di Masaran, Sragen. Usia Ibu S 64 tahun.

Beliau menceritakan bahwa kemungkinan penularan COVID-19 berasal dari anaknya yang pulang dari daerah zona merah. Hal itu juga dibuktikan dengan meninggalnya janin yang dikandung anak dari ibu S. Tes swab pun menunjukkan hasil positif.

Ibu S sangat bersyukur karena berhasil sembuh dari COVID-19 walau ia harus kehilangan salah satu cucu yang sudah ia nantikan. Kesedihan ibu S tidak berhenti sampai di situ. Beliau dikucilkan oleh masyarakat karena beliau seorang mantan pasien COVID-19. Tidak ada lagi tetangga yang membeli dagangannya sehingga menyebabkan kerugian yang cukup besar. Tidak ada lagi tetangga yang mau

bertegur sapa dengan beliau karena takut tertular. Bahkan ada tetangga yang memperlakukannya secara tidak manusiawi. Contohnya saat ia akan di isolasi di rumah sakit ada tetangga yang berkata, “racun kalau tidak segera disingkirkan dari sini akan menyebabkan seluruh masyarakat ikut tertular”.

Ibu S setelah dinyatakan sembuh dan kembali ia menjalani kehidupan seperti biasa. Meski perkataan tetangga membuat sakit hati, beliau terus meyakinkan kepada masyarakat bahwa ia sudah baik-baik saja. Meskipun masih mendapat penolakan, ia sadar bahwa sikap tetangganya tidak salah. Rasa takut terhadap kemungkinan penularan virus COVID-19 itu wajar. Beliau hanya menyayangkan sikap mereka yang memperlakukan beliau secara kasar. Ia berkata, “saya sudah sembuh, mengapa mereka memperlakukan seperti itu? Kita adalah tetangga, tetapi mengapa mereka seperti itu? Jika saya melihat tetangga mengalami hal yang saya rasakan, saya akan membantu. Rasa kemanusian saya lebih besar dari rasa takut saya”.

Begitulah sepenggal kisah pilu dari mantan pasien COVID-19. Kejadian diatas menunjukkan kurangnya edukasi tentang virus ini di masyarakat. Masih ada kelompok masyarakat yang menganggap bahwa jika mantan pasien COVID-19 masih bisa menyebabkan penularan meski telah sembuh.

Hendaknya kita tidak menambah beban batin seorang pasien ataupun mantan pasien COVID-19 dengan perkataan yang tidak seharusnya. Tidak ada orang yang sengaja ingin tertular penyakit ini. Terkadang bukan COVID-19 yang membunuh pasien, tapi perlakuan negatif masyarakat yang menyerang psikis mereka sehingga berdampak kematian. (Nada Assunniyah)


 

Komentar